When i'm really being me. Personally. Completely. Just… me.

(Not) A Love Letter For You

Image

– The following is dedicated for my younger brother, Didi. –

Do you ever know?

How your heart’s honesty

Truly, how they amaze me

Do you ever know?

I have huge admiration

For your pair of eyes

And the way they see life

And I never bother

What u think of how the world see you

I believe in my eyes

I see the world’s wonder

Right in you

Not to mention

Your love and shining light

When you play that music

The way you drum it out

Your brilliance, till you sing it aloud

Oh yeah, I’m your huge fan

So, please

The world is your red carpet

And people’s about to experience an earthquake

The minute YOU step on their planet

Rock the world

It can’t help waiting any longer to watch your gig

You will be bigger than just changing lives

You will change the color of the sun

And tune it in to your frequency

Your skin will no longer be zipped

You’re about to break

Cos it can’t help feeling the vibrancy of your burning fire

You’re about to soar

Cos your soul is bigger than the Mars

…..And this,

This is not my love for you :)

This is MORE than that

This is my limitless faith on you

Well, not that you’ll ever need it

To shine the planet

Just LIVE

With, or without me

You will… LIVE :)

Ada masa dalam hidup dimana kita berada di persimpangan. Persimpangan dua keputusan: Stay atau Leave. Tetap disini atau pergi. Semua usaha yang dikerahkan untuk memperbaiki keadaan dan memperbaiki hubungan telah menyerap energi jiwa kita hingga lebih dari sekedar habis. Kalau ada istilah “nyawa defisit” ya itulah keadaan nyawa kita saat di persimpangan ini. Karena semua usaha yang dilakukan terus membuat masalah baru, luka baru. Kehancuran cinta yang baru. Lagi.

Ratusan pertanyaan terus bermunculan hingga menjadi kumpulan puisi penuh tanda tanya. Tanda tanya yang diwarnai kemarahan, kehampaan, kelinglungan. Lelah mencari pegangan dan akhirnya kita menyerah pada ketersesatan. Pada kegelapan.

Dan datanglah saran untuk pergi meninggalkan semua ini. Bahwa mungkin dengan “pergi”, kita akan menjadi lebih bahagia. Bahwa dengan pergi…. Mungkin kita akan mendapatkan apa yang kita rasa memang pantas dapatkan. Bukan kemarahan, cacian, buang-buang waktu berharga yang mestinya bisa digunakan untuk membuat karya bagi dunia.

Semua waktu dan tenaga terbuang, hingga menjadi kerugian bagi dunia. Dan kesakitan yang tak berujung tusukan pisaunya dalam hati ini.

Sangat mudah cinta membawa kita terbang, namun samgat mudah juga cinta jatuhkan kita ke dalam jurang.

Waktu berlalu begitu lambat, memasukanku makin dalam ke pusaran air lava yang membakar warna yang pernah terpancar dari mata ini.

Aku masih muda, apakah pantas aku terima bakaran ini?
Kenapa tak sekalian saja tampar aku? Tendang injak wajahku ke tanah?
Atau diagnosa aku dengan penyakit terparah vonis aku mati 2-3 bulan lagi?

Tuhan ijinkan aku pingsan, ijinkan aku tidur dalam mimpi.
Ijinkan aku terbang jauh dalam dunia khayalan.
Ijinkan aku lupa, dan masuk ke alam yang tidak pernah nyata.

Tapi TIDAK.
Kata Tuhan.

Sepertinya aku mendengar suara Tuhan yang menggema di dinding2 organ jantung dan paru-paruku.
Diam-diam Tuhan mengijinkanku mendengar pesannya. Walau suara itu sangat jauh dan samar. Mungkin kata-Nya, “kau tidak akan mati, aku akan membakarmu di neraka dunia ini, tapi kau akan bertahan….dan kau akan….”

Hanya sampai situ. Lalu hilang. Tak terdengar lagi suaranya.
Entah Tuhan yang menjauh atau aku yang memilih menutup telinga hatiku dari bawah sadarku.

Lalu aku menghukum diriku. Memperlihatkan kelemahanku demi mencari setitik cinta dan perhatian, darinya. Hanya darinya, sumber kehidupanku selama umur hidupku.

Namun tak kudapat perhatian itu, hingga kutenggak sekian butir harapan untuk mati sementara. Hanya sementara. Agarku dapat pelukannya, saat nanti kuhidup lagi. Pelukan yang kunanti-nanti selama ini. Pelukan takut. Takut jika ku pergi darinya. Pelukan yang menyatakan bahwa ia butuh. BUTUH KEBERADAANKU.

Aku masih kecil. Pikirku lagi.
Kenapa aku harus tumbuh besar dalam ikatan tanaman berduri ini.

Namun…
Meskipun begitu aku masih percaya, aku punya setitik harapan di hatiku.
Aku tau aku masih pantas untuk memimpikan setitik cahaya dihati ini.
Seberapa hinanya aku di mata makhluk dunia yang semuanya sungguh aku cinta dan aku maafkan sejak hari pertama.

Dan mungkin setitik cahaya itu yang mendorong kaki dan jiwaku dengan tiupan angin yang tak terlihat dan tak terasa. Meniupkan sehembus nyawa demi nyawa. Tetap defisit namun ajaib, karena aku tetap bisa hidup.

Dan hari itu sampai. Di mana nerakaNya makin nyata depan mataku. Cahaya api menggelora membakar kewarasanku. Aku gila. Kata mereka. Dan aku tetap menganga dengan sempurna, membiarkan api ciptaanNya masuk membakar rohku yang telah busuk dan usang. Membakar setan-setan di paru-paru dan jiwa tempat dulu aku bernyanyi melodi indah.

Aku depresi, kata para makhluk dunia. Namun aku meloncat ke 100 tahun dimasa depan jiwaku, kata jujur hatiku.

Aku terselamatkan. Karena aku membuka rangkulanku, menerima dengan suka lebih dari gembira. Saat terbakar neraka Yang Maha Kuasa. Karena jiwa kecilku tahu, inilah jalanku menuju dingin sejuknya Surga.

………….

Dan aku belajar satu nilai kehidupan yang tidak ternilai oleh milyaran berlian. Oleh uang semua kerajaan. Bahwa….

“Mungkin satu hal yang paling kita cintai, adalah satu hal yang justru paling sulit untuk kita pertahankan.”

Membuat kita hancur, luka, sakit, jatuh, dan ingin pergi. Dan ketika kita memutuskan untuk STAY. Neraka akan membakar hangus jiwa lama kita. Agar kita terlahir baru, menjadi manusia bahagia yang dapat menciptakan cinta menjadi nyata. Dalam mensyukuri keberadaan “satu hal yang paling kita cintai tadi.”

Allah Maha Kuasa, Maha Pecinta. Ia-lah Segalanya.
Dan kali ini aku mampu mendengar sisa bisikannya yang dulu belum jelas ku dengar.
Yaitu,

“Kau tidak akan mati, aku akan membakarmu di neraka dunia ini, tapi kau akan bertahan….dan kau..
Kau akan memahami bagaimana memaafkan mereka, menerima mereka, dan mencintai mereka. Juga mencintai dirimu sendiri. Dan kau akan dapatkan lagi bahagia itu. Kali ini, sebagai hadiahKu atas usahamu sendiri.”

Team Marshanda Management “MARSHED EMPIRE” sedang membutuhkan kandidat untuk mengisi posisi Tim Dokumentasi, yang terdiri dari satu orang videografer yang juga mampu menjadi video editor (2 in 1).

 

Job Desc:
- Mendokumentasikan setiap seminar MotivArtist di dalam dan luar kota dan mengeditnya.
- Shooting video-video motivasi Marshanda di studio (kantor) Marshed Empire dan mengeditnya.
- Membuat video profile Marshanda The #1 MotivArtist
- Jam kerja: tidak ada jam kantor. Datang setiap ketika dibutuhkan untuk shooting. Editing boleh dilakukan di kantor maupun dirumah sendiri.
- Boleh mengambil pekerjaan lain di luar project Marshed Empire, selama project video Marshed Empire diprioritaskan lebih tinggi (tidak menggangu jadwal dan deadline yang ditentukan Marshed Empire kepada Anda).

Other Notes:
- Kamera boleh menggunakan milik sendiri (jika ada) dan juga sediakan dari Tim Marshed Empire.
- Software video editing Final Cut Pro dan iMac disediakan di kantor Tim Marshed Empire.
- Diwajibkan mengikuti Online Training “VIDEO GENESIS” dengan harga asli sebesar $247. Gratis tanpa dipungut biaya.

 

Benefit:
Gaji dan Transport yang akan didiskusikan saat Interview.

 

Mohon isi tabel formulir di bawah ini jika Anda berminat!

Terima kasih

 

I Have A “Starlight”

Mereka bilang,
Nggak semua orang punya “starlight”..

Orang-orang yang memancarkan “starlight” dari dirinya disebut orang yang “berkharisma”..

Mereka adalah orang-orang yang percaya diri, penuh keyakinan, charming, dan jelas mencintai pekerjaan mereka atau simply mencintai aktivitas-aktivitas yang mereka pilih.

Dan “starlight” itu memancar paling terang saat mereka sedang bahagia. Kebahagiaan mereka, datang ketika “passion” sedang aktif mengalir deras dalam darah mereka. Dan mereka idealis dalam masalah passion. Mereka hanya akan melakukan hal-hal yang mereka ‘passionate about’.

Mereka bisa belajar hal baru yang asing, yang bukan merupakan keahliannya. Tapi karena rasa pede yang gede, mereka akan bisa menguasai hal itu dalam waktu yang tidak lama.

Mereka mencintai hidup bukan karena hidup mereka indah ‘dari sononya’, tapi karena MEREKALAH yang bekerja keras menciptakan hidup supaya menjadi “arena” yang mereka cintai.

Banyak yang bilang, hanya orang-orang tertentu yang bisa punya “starlight”. Mendengar statement ini, saya punya dua pendapat:

1. Saya percaya saya seseorang yang punya “starlight”.
2. Saya NGGAK percaya bahwa “hanya orang2 terpilih” yang bisa memancarkan starlight.

Mungkin Anda mikir, “pede juga ya si Caca nyebut dirinya punya starlight.”

Well saya berpendapat begitu–beranggapan saya memancarkan sinar starlight–bukan karena saya merasa saya orang terpilih. Saya punya starlight, karena beberapa hal dibawah ini:

• Saya tumbuh dari keluarga broken home, banyak pengalaman traumatis yang saya alami waktu kecil melihat konflik mama dan papa. Tapi saya berusaha habis-habisan untuk berproses dan menerima keadaan keluarga saya sampe setulus-tulusnya yang hati saya bisa.

• Saya pernah di bully selama SD, banyak peristiwa dimana saya dipermalukan didepan umum saat di sekolah. Tapi saya nggak pernah menangis setetespun didepan orang lain. Saya percaya saya anak yang kuat sejak saya masih kecil.

• Disamping punya buanyak fans, saya juga punya buanyakk haters. Setiap mendengan komen yang tidak enak, saya selalu sadar untuk memilih berterima kasih pada para haters dalam lubuk hati saya. Dengan tulus. Karena mereka adalah salah satu alasan saya punya mental baja dan punya pemikiran sedikit lebih cerdas dari saya yang sebelumnya. Mereka adalah alasan kenapa saya terus menantang diri untuk jadi lebih keren, mantap, dan baik. Ga hanya di kulitnya, tapi juga di dalam.

• Saya sengaja upload video ke Youtube, tahun 2009. Saat itu saya sedang depresi, dan mengupload beberapa video yang bisa dilihat publik. Salah satunya adalah saat saya sedang menangis dan bergumam “mama papa” ditengah nyanyian saya di rekaman video itu. Alasan saya adalah saya mau memberitahu ke publik, bahwa inilah CACA yang sebenarnya. Saya punya masalah, hidup saya punya kerusakan, saya punya kecacatan dalam diri saya. Saya ga sempurna, saya bukan hanya artis yang sukses gila-gilaan sejak kecil dan selalu hepi karena hidup saya perfect. Saya muak dengan image itu karena saya merasa berbohong kepada dunia. Dan saya DESERVE untuk hidup menjadi sepenuhnya diri saya sendiri: yang punya kekurangan, yang punya luka, yang saya akan proses sekuat tenaga agar bisa ‘heal’. Mungkin ga cepet. Mungkin satu dua tahun, tapi saya akan bangkit. Dan jadi orang yang kuat, orang yang bijak, yang bisa menginspirasi orang lain karena saya bangkit dari keterpurukan saya sendiri.

Saya bangga untuk bilang saya punya STARLIGHT. Bukan karena saya “terpilih” untuk jadi orang berkharisma dari lahir. Tapi karena saya BERUSAHA untuk mendapatkannya. Untuk membuat pancaran sinar yang keluar dari diri saya REAL dan BERBOBOT. Karena pernah ada luka dan kehancuran disana. Namun akhirnya saya berhasil memaknai luka dan kehancuran itu dengan CINTA. Cinta pada diri saya sendiri dan kehidupan yang penuh warna ini.

I HAVE A STARLIGHT IN ME.
Karena saya tidak ujug-ujug mencintai hidup atau diri sendiri.
Tapi karena saya belajar mati-matian untuk memahami BAGAIMANA SIH MENCINTAI DIRI SENDIRI DAN HIDUP?? Seperti apa sih itu wujudnya?

I have a “starlight” karena Allah SWT memberikan saya bekal berupa hidup yang nggak mudah. Dan Allah SWT juga memberikan saya KEINGINAN, HARAPAN, DAN KEMAMPUAN untuk fight dan memproses diri saya sendiri.

Sampai saya dianggapNya pantas…untuk bisa memancarkan cahaya. Yang bernama “starlight”.

Kalo tadi saya bilang saya NGGAK percaya bahwa “hanya orang2 terpilih” yang bisa memancarkan starlight. Itu karena saya percaya, semua orang itu sama.

Semua orang punya masalah dalam hidupnya. Allah sudah memberi bekal itu. Permasalahan, kejatuhan, luka. Tapi pilihannya ada pada KITA. Apakah kita MAU berdoa pada Allah agar bisa menjadikan masalah itu “sumber pencipta STARLIGHT” di diri kita? Atau kita gak usah berharap, gak usah berdoa dan MEMILIH agar masalah itu menjadi “sumber pencipta cahaya diri yang REDUP”?

Allah mencintai seluruh hambanya, maka Ia-pun memberi akal pada kita manusia, agar kita memilih. Kebaikan, atau kedzoliman. Bukan hanya kebaikan/kedzoliman pada orang lain, tapi kebaikan atau kedzoliman pada DIRI SENDIRI dan HIDUP KITA.

Semoga post ini bisa bermanfaat dan barokah.

“Maknai hidup dengan inspirasi, beri cinta di tiap kontribusi, pada dunia.”

These days being a new mother, i found out so many things—of course—about motherhood.  From that dramatic panicks caused by a lack of sleep in the first two weeks after my baby was born, to that feeling of huge gratefulness of God’s trust in me to be giving me the opportunity to be a mother in my 20s. I mean, that is the most unquestionably fulfilling gift God can give to women everywhere. Being a mother is like being told by Alloh, “You ARE that awesome. You are that AMAZING of a human being. You deserve being the biggest most meaningful thing in someone else’s life. You deserve being a MOTHER.”

 

Ain’t that just the ‘ultimate’ best and right way of God to tell women they they deserve LOVE for themselves? Sometimes women think of the happiness of others more than their own happiness. Sometimes women tend to feel that they need to ‘feed’ others all the time, while forgetting that sometimes it is okay to sit down, take a breath, and feed themselves—by love, of course.

 

This is the feeling that i could never ‘pay’ to God in any form other than giving my best effort to be able to become a GREAT (not just good, but Great) mother. So i could raise a wonderful human being filled with love so that she can be clever not just in her mind, but also in her emotions and heart. As i’ve read somewhere before, a mother is the strongest driving force in a child’s entire life. So i dont wanna be anything but a great one.

 

As time goes, i found out being a mother is not jus about loving, being happy, and spending amazing times. When it comes to being a mother in front of the public, judgments starting to threw their negative vibe to me like a snowball. Well, it’s not that dramatic, as i try not to take it personally that i believe in those untrue judgments. 

 

Older people, especially women..seem to be having these labels or prejudice of me as a mom. I am 23, i have good big family, i have a successful career being an artist, what’s not to be a reason to judge me? It is so insensitively shown that some women think of me as a spoiled young lady. It is obviously shown from their words to me, the way the want to show their ‘care’, which is totally some kind of annoying sometimes. Because what they do, is they think they need to correct me, or tell me what i need to do with my daughter as a result of that negative judgments they actually have of me, and their doubt of my capability. I need to be frank now, as i have always been trying to be honest to the public lately. Being a mother is a gift God gave me because God knows i can be trusted, and me realising my responsibility of becoming a good mother is none of anybody’s business. I know what i am doing with my child, i know if she’s sleepy or hungry, i know what i need to do with my baby despite the fact that i have my boundaries that normal people would respect. So does other young mothers. We learn, we experienced taking care of our babies daily. We ask people we trust about things that needs to be cleared. We undoubtedly want to be the best human being for our children, the kind of mother who would dedicate our lives and heart to our children, not to mention our career and other things that comes second compared to our children. So why care so much? Why talk about us and doubting our capability of being responsible as a mother? You might be shocked cos sometimes the people you talk / think negatively about, can usually be much better than you.

 

So we, young mothers, we appreciate your ‘care’ when it is respectful and non-underestimating. Because age is really not the right measure for someone’s maturity and their readiness to face life’s hardships. And by judging others does NEVER mean that you are a better kind of person. 

 

Live positively, care sincerely, and respect others no matter how old they are, what race, what social class they’re in, and how much money they get. The people you think less of, might be 50 times (or more) greater than you.

Keluargaku Duniaku

Kau membuatku merasa luar biasa, merasa terhebat di dunia
Kau membuka mataku
Akan cinta di dunia dan kekuatan dalam keluargaku

Kau melepaskan suatu energi
Kau memberikan keyakinan yang besar
Dari sesuatu yang dulunya di mataku
Seperti semak belukar tempat tumbuh luka
Hutan gelap gulita..
Keluarga ini

Segala luka yang pernah ada
Segala rusak yang pernah tercipta

Tapi kini ku ingat ku pernah menuliskan:

“Sumber kekuatan yang terbesar, datang dari kesakitan terbesar dalam hidup kita”.
Dan itulah keluargaku.
Ibu, Ayah, dan Kedua adikku.

Dan tau apa? Tulisanku itu benar adanya.
Kalimat itu kembali dalam pikiranku
Malam ini.

Malam ini segala kekuatan menghampiriku
Menyaksikan adik2ku telah tumbuh dewasa
Dengan hati mereka
Yang begitu luar biasa tulus dan penuh cinta
Cara berfikir mereka yang…
Wow….begitu pandai dan dewasa.
Dengan cinta mereka pada dunia seni.
Dan diri mereka apa adanya…..
Adalah KEHEBATAN.

Karena malam ini segala energi cinta mendatangiku
Menyaksikan Ibuku yang semakin membuatku terharu karena menyadari cintanya dan ketangguhannya membesarkan kami.
Mungkin sebelumnya aku tak bisa melihatnya
Dan banyak luka yang tercipta antara kita….

Tapi malam ini, aku sadar
Tahun2 berat itu memang harus ada.
Agar malam ini aku jatuh berlutut
Menyadari dengan air mata….

Betapa kuatnya kita.
Dan betapa satu-nya kita.
Stelah melewati masa berat

Aku tak akan menghargai hari ini, sebesar ini.
Jika masa itu tidak pernah ada.

Aku sungguh mensyukuri…
Karena Alloh membawa kita bersusah2 dahulu…
Agar kita mampu merasakan sepenuhnya hari bahagia ini. Dan menghargai serta mensyukurinya dengan sungguh2.

Ini baru langkah pertama.
Dari masa depan di mana kita akan bersama-sama mengalahkan dunia!!

Dibutuhkan tekanan 1000 ton untuk menciptakan batu berlian.
Kita adalah berlian itu
Kalian….adalah berlian itu. Bagiku.
Semua masa lalu itu ada karena ada maksudnya.

Dengan cinta kita….
Dan ketulusan kita.
Bersama kita akan jadi satu kekuatan….
Mengalahkan dunia di hari esok :)

Mungkin dulu aku sedih memikirkan keluargaku.
Tapi hari ini..
Dengan lantang aku berkata:

AKU BANGGA PADA KELUARGAKU
AKU BANGGA MENJADI BAGIAN DARI KELUARGA INI.

Dan aku percaya Alloh menjadikan kita satu, untuk tujuan yang besar dan bermakna di dunia.
Marilah bersama2 mengejar dan mencapainya.
Mari kita ciptakan makna dari hadirnya kita di dunia ini.

Sungguh cintaNya pada kita.
Sungguh cinta Alloh luar biasa.
Sungguh….

:) :) :)

As these days pass by without ambition. I stare at the air. Feeling quite empty.
I need more to achieve. I need more to learn. I am so thirsty. Of consistency.

Gw lagi pengen nulis, karena most of the time nulis is easier for me than to directly talk..
Kali ini gw mau nulis ngalir aja, tanpa di edit, tanpa ada struktur, tanpa diatur.

Rasa syukur selalu ada, tapi entah kenapa rasanya pengen lebih. Pengen lebih, pengen lebih.

Rasa syukur ada dan gw percaya itu yang bikin hidup berarti dan lebih bahagia.

Seneng sih sebenernya. Kalo diinget-inget beberapa waktu terakhir ini banyak melewati momen-momen yang sengaja gw ikutin untuk menerima pembelajaran baru. Waktu itu sempet ngabisin enam hari full ikut Pelatihan Dasar Konseling yang diadain sama S.A.T.U Consulting dan juga ikut online coursenya Brendon Burchard yang namanya High Performance Academy Online Master’s Course.

Iya sih, sebenernya ada hal-hal baik dan membangun yang gw kerjakan selama ini. Tapi entah kenapa hari ini tiba-tiba gw ngerasa kurang. Mungkin sifat ambisius gw lagi ‘kambuh’, which is good. Karena itu yang membuat gw jadi selangkah lebih maju. Tapi bad sidenya, ‘ambitiousness’ ini membuat gw nggak bisa tidur sampe pukul 2.22 dini hari, saat ini. Tapi gw mau mencoba melihat situasi ini dari sudut pandang yang berbeda. Mungkin dengan ngalir aja nulis gw akan nemuin angle berbeda itu dengan sendirinya.

Banyak rasanya yang pengen gw share dalam tulisan kali ini karena udah lama buanget gw nggak nulis. Mungkin itu juga yang bikin gw kadang merasa stuck, karena buah pikir – buah pikir yang begitu banyak di kepala nggak gw keluarin dalam bentuk favorit gw. Tulisan.

Ok then, so i’ve decided dalam tulisan kali gw akan share satu dari sekian pelajaran-pelajaran atau hikmah keren yang gw dapetin selama sekian ratus bulan terakhir ini *lebay. Dan satu hal itu adalah yang udah gw sebutin diatas, High Performance Academy Online Master’s Course. Untuk cerita-cerita lainnya akan gw share di next posts.

 

High Performance Academy (HPA) by Brendon Burchard

Ini adalah sebuah akademi online yang sangat amazing super duper crazy doremi stroberi deh. I recommend you untuk nge-google “Brendon Burchard” dan tonton salah satu videonya. Atau subscribe dan ikutin. You’ll see how brilliant he is. Yang kocak masa gw ampe sempet mimpi Brendon Burchard dinner bareng gw dalam rangka pdkt sama gw. Hahahaha! Waktu gw ceritain Ben sih ketawa-ketawa aja ngakak ngeliat istrinya segitu freaknya nikmatin itu HPA online course.

Tapi banyak banget yang gw pelajarin dengan mengikuti online course ini. Gw juga punya notebook khusus yang isinya adalah catetan lengkap yang gw tulis sambil nonton video lessonsnya Brendon. Kalo gw ceritain detail seperti apa sistem belajarnya rasanya gak mungkin bisa karena akan banyak banget yang harus gw tulis. Tapi ada beberapa hal penting bagi gw yang gw pelajari dari online course ini.

Pertama, it’s not that easy to be a high performer. It really isn’t!! Mungkin internal force bisa dibangun (yang basically gak mudah juga) Tapi external force juga bagi gw, jujur, sangat berpengaruh. Internal force diatas adalah semangat, ambisi, konsistensi, persistence, determination, proses belajar terus menerus, disiplin, dan fokus. Kalo external force itu adalah konsistensi untuk terus memperbaharui diri dengan belajar hal-hal baru yang sesuai dengan goals kita dan bahwa adanya support dari lingkungan sekitar itu sangat penting. Contohnya, kita harus berteman dengan orang-orang yang memenuhi, atau mengarah ke, kriteria kepribadian dan perilaku seorang high performer. Karena kalo kita udah semangat berapi-api, tapi lingkungan nggak kondusif, biasanya agak susah untuk keep our pace. Analogi randomnya misalnya sebatang emas, tapi ditaro dilumpur dan didiemin karena ngga terlihat dan bahkan keinjek-injek kaki orang yang lewat. Beda nilainya dengan emas yang diambil oleh “tangan yang tepat” dan dipoles dari kotoran-kotoran dipermukaannya, terus diperindah dengan ukiran-ukiran, dan kemudian dijual dengan harga tinggi. Dengan kata lain, potensi yang nggak terdukung oleh kendali orang-orang yang tepat akan jadi sia-sia dan tak bernilai.

Dan pentingnya lingkungan itu emang kerasa banget hanya dalam beberapa hari pertama gw ikut online course ini. Gw merasa dikelilingi orang-orang yang sangat positif yang ingin terus mengembangkan diri throughout their lives. Mereka adalah 799 peserta lainnya yang juga mengikuti course ini. Luar biasa how being in such environment and focusing on them influences my mind and behavior to stay on the right track. Rather than focusing on the negative energy we get from negative shallow people yang mungkin ada dalam hidup kita masing-masing yang kerjaannya mengkritik atau menjelekkan orang lain, and feel happy and fulfilled doing it. Capek banget kan tenggelam dalam kritikan atau ejekan orang lain terhadap diri kita. Seperti haters di social media, atau banyak contoh real lainnya. So useless mendengarkan celotehan orang-orang ini, karena dengan focusing kesitu energi kita akan drained down akibat aura negatif yang ada dipikiran kita dan kemudian menyebar ke sel-sel di tubuh kita. Kita jadi fokus pada hal-hal yang ngga ada, yang kurang, yang jelek bagi kita. Sementara dengan mengelilingi diri sendiri dengan orang-orang yang fokus pada strength mereka dan saling support karena mengerti pentingnya meraih sukses dalam hidup itu SANGAT truly energizing.

Seriously! Gw ngomong gini karena memang merasakan langsung. Jadi kalo ada istilah “kalo bertemen itu jangan pilih-pilih.” Well, frankly gw bukan penganut paham itu. Dalam arti, gw tetap bereman sama siapa saja. Tapi yang gw jadikan sahabat atau the ones that i hang out with the most adalah orang-orang yang bagi gw bisa membawa pengaruh positif bagi gw. I honestly dont wanna waste my time dengan orang-orang yang hobinya adalah dengan sengaja point out flaws orang lain, atau ngegosipin dan ngomongin hal negatifnya orang lain. Kenapa? Cos i care for my life, i care for the way i think most of the time, cos the way i think most of the time itu terbentuk dari yang namanya kebiasaan. Kalo kita terbiasa dikelilingi dengan orang-orang yang sering menggunakan kalimat-kalimat atau pembahasan negatif, maka cara berpikir kita juga jadi akan terbiasa bekerja dengan membentuk kalimat-kalimat negatif atau melihat hal-hal dari sudut pandang yang sempit.

Dan satu lagi alasannya adalah karena gw care for my inner peace!! Jelas kita akan gelisah kalo sedang atau habis melakukan hal yang negatif, entah menjadi pelaku aktif atau hanya sebagai pelaku pasif—pendengarnya. Pasti nggak enak rasanya, dan gw lebih prefer untuk ngobrol-ngobrol dengan orang yang berpikir ke depan, orang-orang yang peduli dengan sekitarnya, people who talks about ideas and rare point of views yang menginspirasi gw. Dengan begitu setelahnya pasti gw akan pulang dengan perasaan enlightened dan senang. Karena gw berhasil mengisi hari gw dengan hal-hal yang truly positive dan membangun diri.

 

So, basically gw seneng banget dikaruniakan Allah keinginan unutk belajar seperti selama ini. Walaupun nggak 24/7 juga sih kepengennya. Jujur gw pengen lebih haus lagi untuk belajar karena gw pengen jadi lebih sukses lagi. Dalam banyak aspek. Dan gw seneng bisa dikasih kesempatan untuk nemuin linknya Brendon Burchard yang promoin online coursenya yang sangat precious itu. Walaupun gw agak behind karena kesibukan-kesibukan lainnya, tapi gw pengen nyelesaiin course ini. Karena gw percaya, memperbaharui diri itu didapatkan dari melakukan 2 hal. Yaitu MENERIMA dan MEMBERI. Menerima adalah belajar dari seorang coach, guru, senior, kakak, orang tua, dan sebagainya.. Sementara memberi adalah membagikan pada orang lain apa yang kita sudah miliki. Membagikan inspirasi dan hikmah berharga apa yang sudah kita terima dan rasakan.

To give back what you get, will make you get more than what you give. :)

Yup!! Itulah the other angle to see my previous situation. I got it! Gw berhasil nemuin sudut pandang berbeda, dan sadar bahwa tadi gw lupa bersyukur dengan mengingat-ingat apa aja nikmat yang Allah udah kasih ke gw. Dan itu rasanya lebih nikmat :) Makasih ya readers udah setia baca ini sampe habis. I love you for believeing in me, and for being my source of inspiration!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,243,641 other followers